PRAJURIT KOPASSUS BELAJAR CARA BERPIKIR SUPRARASIONAL

Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), Ir. Raden Ridwan Hasan Saputra, M.Si., mengatakan bahwa cara berpikir manusia ada empat, yaitu natural, rasional, supranatural dan suprarasional. Hal tersebut disampaikannya dihadapan segenap prajurit dan warga besar Kopassus pada acara peringatan tahun baru Islam 1439 Hijriyah di Mesjid Nur At-Taqwa Cijantung Makopassus (Kamis, 28/9).

“Jika cara berpikir natural adalah cara berpikir alamiah, maka rasional sudah menggunakan inovasi dengan melibatkan nalar, tidak hanya berpijak pada sesuatu yang rutin/sesuai pola yang ada. Cara berpikir supranatural yaitu cara berpikir orang-orang natural ketika berada pada posisi sudah tidak bisa lagi menemukan cara dalam menghadapi masalah, sehingga meminta bantuan makhluk gaib dalam menyelesaikan masalahnya. Sedangkan cara berpikir suprarasional adalah cara berpikir orang rasional yang dipakai ketika menghadapi masalah yang sangat sulit bahkan tidak bisa diselesaikan dengan cara berpikir rasional’, tegas Ridwan.

Alumnus IPB Angkatan 30 dari Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Mekanisasi Pertanian ini, selanjutnya menyampaikan bahwa orang suprarasional selalu berpikir Allah sebagai majikan. Jika kita memilih menjadikan Allah sebagai majikan hal itu adalah pilihan yang cerdas. Menjadikan Allah sebagai majikan berarti kita sudah menjadikan yang gaib menjadi suatu pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Selanjutnya Ridwan mengambil contoh penegasan keyakinan tersebut dalam surat Al Maidah (5) ayat 120. Menjadikan Allah sebagai majikan adalah langkah yang benar karena Allah lah pemilik langit dan bumi. Kepada segenap warga Kopassus, Ustadz muda asli Laladon, Bogor ini berharap agar prajurit dan warga besar Kopassus lebih banyak memperbesar pahala sebagai tabungan jiwa dan merencanakan kesusahan karena diyakini bahwa setelah kesusahan pasti ada kemudahan dan kesenangan.

Danjen Kopassus Mayjen TNI Madsuni dalam amanatnya yang dibacakan oleh Ir. Kopassus Kolonel Inf Arief Bukhori menjelaskan bahwa ketika mencetuskan penanggalan Islam, Sahabat Rasulullah SAW Umar Bin Khatthab memiliki tiga tujuan utama, yaitu untuk manajemen administrasi pelayanan bagi umat; membuat identitas Islam; dan mengajak umat Islam menghargai dan mencintai sejarah serta peradaban Islam. Dalam konteks kekinian, maka peringatan tahun baru Islam dimaknai sebagai spirit atau semangat perubahan dalam setiap aspek kehidupan.
Untuk itu, peringatan tahun baru Islam menjadi wahana yang sangat penting bagi umat Islam untuk melakukan perbaikan diri dengan bermuhasabah atau introspeksi terhadap apa yang sudah dan belum kita lakukan sebagai hamba Allah yang ditugaskan untuk berbuat amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat agar dapat menjadi umat dan hamba Allah yang memberikan manfaat bagi sesama.

“Saya mengajak kepada segenap prajurit dan seluruh warga Kopassus, dalam memasuki tahun 1439 hijriyah ini untuk senantiasa meningkatkan kadar iman dan taqwa, hidup dengan penuh optimisme, menjauhi sikap takabur, meningkatkan sikap waspada dan siap siaga serta memiliki kepekaan terhadap perkembangan lingkungan saat ini untuk menyongsong tugas-tugas mendatang”, tegas Bukhori saat membacakan amanat Danjen.

Peringatan tahun baru Islam 1439 Hijriyah, dibuka dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an Surat At Taubah ayat 36 oleh Serka H. Maksum, dengan saritilawah Sertu (K) Ayu Dini. Setelah itu, dilanjutkan dengan doa dari anak-anak yatim untuk Kopassus yang dipimpin oleh Ustadz Indro dan pembagian santunan kepada 150 anak-anak yatim serta pembagian hadiah lomba-lomba antara lain lomba cerdas cermat Islam, lomba adzan, lomba baca Al Qu’an dan lain-lain.

Hadir dalam acara peringatan tahun baru Islam antara lain Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang BS Kopassus beserta pengurus dan anggota; Ir. Kopassus, Pamen Ahli Danjen Kopassus, para Asisten Danjen Kopassus, Dansat Kopassus dan para Kabalak Kopassus, prajurit dan PNS beserta segenap warga besar Kopassus.