Karapan Kerbau Potensi Wisata Sumbawa

Subkorwil Sumbawa – Tradisi Karapan kerbau sudah menjadi kebiasaan turun temurun nenek moyang masyarakat Sumbawa sejak zaman dahulu. Selain sebagai tradisi, karapan kerbau juga sudah menjadi salah satu hobi  masyarakat Sumbawa.

Karapan dilakukan sekali seminggu (Hari minggu) dengan tempat yang berbeda-beda sesuai dengan ketentuan panitia. Karapan kerbau diselenggarakan di beberapa wilayah di Sumbawa seperti di lapangan Srading (Sumbawa), lapangan Srangin (Taliwang), dan  lapangan alas barat.

Tim Sosial Budaya Ekspedisi NKRI 2015 Subkorwil 3/Sumbawa kali ini melakukan pengamatan dan penelitian tentang Karapan kerbau yang digelar  di kecamatan Alas Barat dengan Jumlah peserta lomba   sebanyak 94 orang (19/04/2015).

Untuk mengikuti perlombaan, setiap joki membayar uang pendaftaran Rp. 100.000,-.Perlombaan kali ini pihak panitia menyediakan hadiah kambing, lemari, kain sarung, dan kipas angin. Jika ada perlombaan karapan kerbau semua joki diberikan undangan oleh panitia untuk ikut serta dalam karapan, karena semua pemilik kerbau karapan sudah terdata di Sumbawa.

“Kerbau yang digunakan untuk karapan hanya kerbau jantan, pemeliharaan khusus untuk kerbau karapan hanya berada dikandang, diberi makan yang banyak kemudian dilatih setiap dua kali seminggu yaitu hari jum’at dan sabtu, bertujuan agar kerbau terbiasa berlari kencang dan terarah”, Ungkap  Kapten (Mar) M. Andi Yusuf, Wadan Subkorwil 3/Sumbawa.

 Kerbau karapan memiliki nama khusus yang unik seperti manohara, piring terbang, janda udik yang bertujuan agar setiap kerbau memiliki nama yang khas. Prosesi  khusus  dilakukan pada kerbau sebelum melakukan perlombaan seperti, dimandikan, di do’akan dengan do’a tertentu kemudian di dandani  dengan  pita-pita.

Dalam proses perlombaan karapan kerbau, setiap kerbau harus menjatuhkan kayu yang ada di tengah lapangan, jika sudah menjatuhkan kayu tersebut barulah kerbau dapat dikatakan berhasil sesuai dengan kecepatan tempuhnya.

Karapan dilakukan sampai tiga kali untuk mendapatkan juara. Karapan ini diberlakukan sistem gugur,  jika kerbau sudah kalah maka langsung gugur.  Perlombaan karapan kerbau disesuaikan dengan besarnya kerbau, yang besar diadu dengan yang besar (Kelas 1) dan yang kecil diadu dengan yang kecil (Kelas 2). Pertandingan kali ini kerbau tercepat dengan waktu 9 detik dengan jarak tempuh 100 meter.

“Kerbau karapan biasanya dijual dengan harga 50-100 juta rupiah  perpasangnya. Jika kerbaunya sudah kencang untuk karapan maka harga bisa sampai diatas 100 juta rupiah  perpasangnya”, Ungkap M Ali pemilik Kerbau.A.Munir